Selamat datang, selamat menikmati berbagai sajian gaya hidup sehat disini.

autogebet's picture
Posted by autogebet

Jika kita sudah terbiasa bersepeda, kita menyatu dengan sepeda yang dikendarai. Secara bawah sadar, tubuh kita tahu bagaimana merespon setiap ada tanjakan, tikungan, turunan, dan respon itu akan diikuti oleh sepeda kita. Kita juga terbiasa bagaimana sepeda merespon terhadap setiap aksi yang kita lakukan. Proses penyatuan ini membutuhkan waktu untuk membiasakan, sehingga diperlukan latihan-latihan, tidak dapat seketika.

Saya mengalami kecelakaan pada saat gowes di Nusakambangan (7 Juni 2015), sepeda gagal membelok, terjungkal saat keluar dari aspal. Ini disebabkan karena perubahan setting rem.

Gowes ini merupakan event 2 hari, diawali dengan gowes Jogja - Cilacap (160 km), kemudian menginap 1 malam di Cilacap dilanjutkan gowes di pulau Nusakambangan. Di hari pertama, dijumpai tanjakan dan turunan yang cukup curam, alhamdulilah dapat dilalui dengan baik. Ini menggunakan setting rem yang sama seperti saat gowes-gowes sebelumnya (Semarang, Magelang dsb). Saat tiba di Cilacap, saya berinisiatif mengubah setting rem menjadi sangat pakem, dengan harapan pengereman tidak terlalu berat (lengan pegal) jika menjumpai turunan curam berikutnya.

Setingan rem ini works just fine di jalanan datar, rem sangat pakem walaupun baru tuas rem baru ditarik sedikit saja. Tanjakan dan turunan di Nusakambangan ternyata tidak terlalu curam, namun perilaku rem ini menjadi tidak terduga. Saat ingin membelok, bawah sadar saya masih merespon tikungan dengan setingan rem lama. Belum terlalu dalam saya menarik tuas rem belakang, ternyata menjadikan roda belakang mengunci sehingga terjadilah selip/ngepot dan terjungkal. So singkat kisah, gabungan hal-hal ini menjadi penyebab njungkel: Kondisi turunan yang tidak terlalu curam, setingan rem yang terlalu pakem, ditambah "sensor" bawah sadar saya masih menggunakan setingan rem lama. Saya sudah merasa menekan tuas rem sedikit saja, tapi ternyata yang sedikit itu sudah menjadikan ban mengunci dan sepeda tidak dapat dikendalikan lagi.

Satu hal yang penting adalah helm. Bersyukur menggunakan helm, dan strap menjaga helm tetap di kepala. Pada saat kejadian, helm pecah seperti pada gambar diatas. Pecah hingga ke sisi bagian dalam, namun kepala terlindungi, tidak ada pingsan, pusing maupun mual. Walaupun helm nampak seperti gabus ringan saja, namun berperan penting dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga. Juga, hindari melakukan perubahan setingan rem pada saat event gowes, terutama jika melibatkan tanjakan/turunan curam. Sebaiknya kita memberikan tubuh kita cukup waktu latihan untuk beradaptasi dengan setingan rem baru, latihan di berbagai kondisi tanjakan dan turunan agar perilaku pengereman dapat terprediksi.

Semoga sharing ini bermanfaat.

Video: 

Categories: 

Sepeda Sehat
Misi SepedaSehat.com adalah mendorong gaya hidup sehat dengan bersepeda, menjaga api semangat bersepeda agar tetap membara, sehingga kita akan terus dan terus bersepeda untuk sehat.