Selamat datang, selamat menikmati berbagai sajian gaya hidup sehat disini.

Lukito Edi Nugroho's picture
Posted by Lukito Edi Nugroho

Salah satu target sepedaan saya tercapai hari ini: mencapai Kaliurang. Kaliurang saya pilih sebagai salah satu milestone karena tempat yang tingginya 860 m dpl itu cukup menantang, jalannya bagus, dan hanya berjarak sekitar 18 km dari rumah saya (kalau diukur dari Jalan Kaliurang, rumah saya kira-kira di km 6, sementara Kaliurangnya di km 24).

Perjalanan mencapai Kaliurang bukan hal yang mudah bagi saya. Saat pertama kali bersepeda, saya hanya kuat naik sampai Jakal km 9. Pelan-pelan naik ke km 10, km 12, sampai akhirnya bulan Mei kemarin saya berhasil “wisuda” di sebuah warung kecil legendaris di Pakem (km 17) yang menjadi tempat nongkrongnya para goweser Jogja. Masih 7 km lagi ke Kaliurang, tapi saya belum punya kesempatan untuk mencoba naik ke sana. Dua hari yang lalu, saya bertekad mendaki ke Kaliurang. Sayangnya fisik dan waktu belum mendukung, dan saya baru bisa mencapai km 20. Masih 4 km lagi.

Pagi tadi, selepas subuh, saya berniat melanjutkan usaha saya…

Sampai Pakem masih no problem. Selepas Pasar Pakem, tanjakan mulai terasa tajam. Kayuhan mulai terasa berat, meskipun setelan gigi persneling sudah diusahakan senyaman mungkin. Nasihat para master goweserpun dipraktekkan: jaga agar cadence (putaran kayuhan pedal) tetap konstan. Tapi kenyataannya berat sekali untuk menjalankannya dalam situasi tanjakan. 

Tiap kali melihat ke depan, serasa tanjakannya tak berujung. Seiring dengan meluruhnya tenaga, muncul godaan: balik saja lah, sudah cukup untuk hari ini. Apalagi saat disalip oleh beberapa goweser yang usianya cukup jauh di atas saya. Malu saya.

Tidak. Saya tidak mau menyerah. Saya sempat berhenti dua kali untuk istirahat sebentar dan minum, tapi saya bertekad untuk tetap terus. Selama mengayuh, saya tidak memandang jauh ke depan, karena saya tahu itu hanya akan membuat saya pesimis. Saya hanya memandang 2-3 meter di depan saja agar saya tidak terpengaruh oleh ketakutan dan pesimisme saya. Saya tidak berpikir tentang panjang dan beratnya tanjakan. Saya fokus pada apa yang ada di hadapan saya: mengayuh.

Dengan kombinasi gigi yang paling ringan, saya maju selangkah demi selangkah. Kecepatan saya saat itu mungkin sama dengan kecepatan orang berjalan cepat. Di situ kesabaran saya diuji. Otak saya selalu berhitung: kecepatan sepeda 5 km/jam, jarak ke Kaliurang masih 4 km lagi. Kapan sampainya kalau selambat ini? Belum lagi kebosanan dan rasa malu dilihat orang, ini gowes beneran atau lagi belajar naik sepeda?… semua pikiran itu muncul dan memunculkan dorongan untuk segera balik arah. 

Berlaku sabar itu sulit, apalagi jika sedang berada dalam kesulitan, sementara opsi-opsi lain yang lebih mudah dan menyenangkan tersedia dan mudah diakses. Cara saya untuk sabar: fokus ke tujuan dan bersedia menjalani proses dalam mencapai tujuan tersebut, seberapa pun beratnya proses itu. Amazingly, fokus dan niat kuat untuk melangkah itu bisa menghambat munculnya pikiran-pikiran negatif…

Akhirnya saya bisa sampai di Kaliurang. Saya senang karena bisa mencapai target, tapi yang lebih penting, saya bisa meyakinkan diri sendiri bahwa kesabaran itu selalu berbuah manis. Saya juga mendapatkan pelajaran bahwa fokus dan kemampuan untuk melangkah itu sangat penting untuk pencapaian suatu tujuan. Jika sudah jelas apa yang harus dilakukan, lakukanlah, jangan berpikir macam-macam, jangan bermain dengan perasaan, dsb. Seperti kata iklan sebuah perusahaan apparel olah raga: just do it. 

Di aspek teknis gowes, saya juga menemukan sesuatu yang berharga. Di tanjakan, kita harus mengeluarkan tenaga seefisien mungkin. Saat kaki kiri dan kanan mengayuh bergantian, biasanya kita mengeluarkan tenaga secara ‘burst’ (menghentak). Ini memboroskan energi. Saya tadi menemukan fakta bahwa kayuhan yang memanfaatkan energi putaran pedal dan dilakukan secara ‘smooth’ bisa menghemat tenaga. Jadi kuncinya pada harmonisasi: keselarasan antara penyaluran tenaga ke kaki dengan dengan putaran pedal. Hukum alam memang indah: sesuatu yang harmonis itu selalu memberikan kebaikan…

Satu lagi pelajaran. Kata Tuhan, di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Saat pulang menuju Jogja, Jalan Kaliurang seolah berkata:”Lukito, silakan dimanfaatkan…”. Tanjakan berubah menjadi turunan, yang tadinya sulit sekarang menjadi mudah. Bahkan Tuhan tahu saya suka dengan kecepatan, dan tadi saya diberi-Nya kesempatan. Rekorpun pecah: 53 km/jam…

Gowes tadi pagi memang spesial… Menaklukkan Kaliurang ternyata merefleksikan pengalaman “menaklukkan” diri sendiri…

Categories: 

Kota: 

Comments

autogebet's picture

Terima kasih sekali atas sharing pengalamannya pak Lukito... memang betul, ketika racun asam laktat sudah memenuhi aliran darah, kita inginnya shortcut saja, ingin langsung putar balik :)

Apa yang membuat kita terus bersepeda, tidak hanya hal2 spt kuliner, kesehatan atau sepeda baru, tapi pemaknaan spt itulah yang memberikan "roh" pada aktivitas bersepeda kita, itulah yang membuat kita fokus pada pencapaian tujuan, walaupun capek luar biasa :)

Satu pencapaian telah terlewati, biasanya akan disusul dengan pencapaian menembus batas berikutnya :)

Tetap Semangat!

Sepeda Sehat
Misi SepedaSehat.com adalah mendorong gaya hidup sehat dengan bersepeda, menjaga api semangat bersepeda agar tetap membara, sehingga kita akan terus dan terus bersepeda untuk sehat.