Beberapa saat sepeninggal Turgo, kami berhenti di satu jalan di pinggir Sungai Boyong yang berada sekitar sepuluh meter di atas dasar sungai yang penuh dengan batu-batuan aneka ukuran. Dan di seberang sungai, tampak kokoh berdiri satu tebing tinggi menjulang sekitar tiga puluh meter, hijau tegak berselimutkan rindang pohon-pohon besar. Saat kami bertanya ke master track kami, Kang Tri Lakone menunjuk tebing terjal tersebut sebagai jalan keluar kami dari tempat ini untuk menuju ke Kaliurang, kami menganggap kang Tri guyon, menggoda kami. Lha wong ya dasari kang Tri seneng geguyonan....
Tebing di Tepi Sungai Boyong (Photo by: Pak Djoko Luknanto)
Kami mendekat ke tempat kang Tri berdiri, dan memang ternyata ada jalur jalan setapak yang mendaki, hanya kelihatan pendek, karena terus berbelok di kerimbunan. Satu persatu kami naik mendaki jalan setapak yang mendaki tebing dengan menuntun sepeda, kemudian jalan berbelok tajam, dan terus mendaki, sesekali masuk ke semak-semak yang rimbun, namun bisa dilewati, dan terus berkelok dan mendaki, berkelok dan mendaki, berkelok dan mendaki, sampai kami benar-benar sulit untuk mempercayai, kami sudah tiba di puncak bukit di tempat yang datar dan nyaman, dan sudah tidak lagi kelihatan sungai yang tadi nampak begitu lebar. Kami berhasil mencapai puncak bukit. Aneh tapi nyata…masih belum sepenuhnya percaya :)
Nampak Jalan Kala Kami Mendekat
Tebing yang dari kejauhan kami kira tak memiliki jalan dan tak memungkinkan untuk dilewati, ternyata sesudah kami dekati, kami melihat ada jalan, dan ketika kami berani mendaki, kami bisa terus maju, naik dan lewati dengan relatif mudah hingga ke puncak.
Pelajaran memaknai hidup dari sadel sepeda
Sering saya merasa tak mampu untuk menghadapi. Saat menghadapi suatu tantangan baru, yang menurut ukuran saya tantangan itu sangat berat dan tidak ada jalan keluarnya. Saya bisa memilih menghindari tantangan tersebut dan mundur. Dan saya akan tetap memandang tantangan tersebut sebagai suatu tantangan yang tidak ada solusinya. Dan kembali saya melalui pengalaman hidup sehari-hari yang biasa saya lakukan sebelumnya.
Namun kalau saya berani mendekat dan masuk kedalam tantangan tersebut, sangat mungkin saya menemukan jalan setapak seperti jalan di tebing di tepi Sungai Boyong, yang mungkin memang kecil, berliku dan mendaki, namun akan menuju ke penyelesaian yang indah. Dan saya akan memandang tantangan tersebut bukan lagi suatu tantangan yang berat, namun sesuatu yang memiliki jalan keluar yang takkan pernah saya lihat kalau saya tidak mendekat, masuk dan menyelaminya sebagai bagian dari peziarahan hidupku. Dan saya belajar serta mengalami hal baru yang menyenangkan.
Sungai Boyong dan Tebingnya (Kompilasi dr. Hendro)[/caption]
Lokasi:
Categories:
Kota:



Diskusi Terkini